Jogja Berselimut Tangis - INFORMATIKA SMK N 2 TARAKAN
Headlines News :

Be Smart, Nice, And Honest

Don't forget with "Responsibility"!
Home » » Jogja Berselimut Tangis

Jogja Berselimut Tangis

Written By Informatika SMKN2 Tarakan on Rabu, 06 April 2011 | 4/06/2011 10:34:00 PM

By : Rika Nur Puspadewi
Hembusan angin disore hari yang membuat rambut pendekku berhamberan kesana kemari. Asap tebal dari puncak gunung merapi yang tinggi menjulang kelangit, turut menghiasi suasana sore ini. Tatapanku tak pernah lepas memandang gelapnya awan nan tebal yang ada diatas gudung tinggi itu.
Hujan debu turut menghiasi suasana sore ini. Keadaan kota yang tertutupi oleh tebalnya debu, bak London yang berselimuti salju tebal.
“Ya Allah, mengapa engkau ubah keadaan kota kelahiranku tersayang ini? Yang dulu sebelum kutinggal merantau, kota ini kota yang makmur. Tapi mengapa telah berbeda? Mengapa?” tanyaku dalam hati dibalik lamunanku.
Tetesan air mata tanpa sadar keluar dari kedua kelopak mataku. Tanpa panjang lebar kuusap air mata yang membasahi pipiku ini dengan sebuah saputangan kecil berwarna biru terang.
“Ieh. Cowok apaan sih aku ini. Cengeng banget! Semangat Bayu! Semangat!” kataku membangkitkan semangatku yang dikit demi sedikit memudar ketika melihat kondisi kota gudek yang kusayangi kini cukup memprihatinkan.
Aku memutuskan untuk melangkahkan kakiku dikota pelajar yang telah kutinggal pergi merantau. Kulangkahkan kakiku menyusuri toko demi toko yang ada di kompleks pertokoan malioboro yang penuh dengan debu tebal. Hanya dengan cara inilah kucurahkan semua rasa rindu yang selama ini kupendam. Kulangkahkan kakiku dengan pasti. Kupandangi toko demi toko yang aku lewati. Kuingat dan kukenang masa-masa indahku bersama keluarga dan sahabat-sahabatku.
Kakiku tak lagi melangkah. Kuberhenti tepat didepan sebuah warung kecil yang menjual makanan khas Yogyakarta, yaitu gudeg. Sebuah warung kecil milik bulek Sud ini dulu sering kusinggahi. Sudah lama aku tak menikmati hidangan ini. Akupun memutuskan untuk mengisi perutku dan melampiaskan rindu yang kumiliki pada makanan yang berisikan nangka muda, daging sapi, serta rempah-rempah lain yang memberikan kenikmatan didalamnya.
Kutundukkan kepalaku untuk memasuki pintu pendek yang menyapa pelanggan setia bulek Sud. Rasa yang enak nan lezat, bulek buktikan lewat banyaknya para pelanggan setia bulek. Demi mendapatkan gudeg buatan bulek, aku rela menghabiskan waktuku berdiri diantara banyaknya orang. Kutatapi hidangan-hidangan yang ada. Ingin rasanya ku menghabiskan semua makanan itu. Tapi keinginanku terhalang oleh banyaknya orangyang juga ingin menikmati gudek terenak di Yogyakarta.
Akhirnya salah satu pelanggan bulek selesai menikmati hidangan yang tersedia di depannya. Setelah ia menjauh dari tempat duduk, tanpa pikir panjang kucepat-cepat duduk di kursi panjang yang telah disediakan oleh bulek Sud.

“Mbak.” kataku sambil kuangkatkan tangan kananku untuk memesan makanan pada seorang gadis yang sedang asik melayani pelanggan yang lain.
“Iya mas. Sampean pesen opo?” kata gadis itu dengan lemah lembut.
“Gudek sito’ karo es jeruk sito’.”
“Ya. Sebentar. Tak buatin dulu.”

Setelah gadis itu mendengar pesananku, ia yang dibantu dengan seorang nenek renta langsung membuatkan pesananku. Selang lima menit, pesananku telah siap di hadapanku. Dengan lahap kulangsung menghabiskan mekan yang telah tersedia. Sepertinya diantara para cacing yang ada dalam perutku masih ada yang belum kebagian makanan, sehingga aku memesan kembali satu porsi gudeg plus es jeruk.

xxx

Setelah dua porsi gudeg pindah kedalam perutku, aku kembali melangkahkan kakiku menjusuri kota pelajar yang kini penuh dengan debu. Saat ku langkahkan kakiku dengan pasti di atas tebalnya debu yang menyelimuti kota, tiba-tiba…

“Yu…”
“Kayak ada yang panggil aku. Sopo yo?” kataku heran sembil menengokkan kepalaku kekanan dan kekiri.
“Neng mburi mu.” kata seorang pemuda yang sedang duduk tenang diatas andong berwarna biru.
“Owh… kowe to, Bejo.”
“Iyo. Arep nengendi kowe?”
“Aku arep mlaku-mlaku.”
“Reno, melok aku.”
“Yo…” kataku sambil menaiki andong milik Bejo, sahabatku dulu semasa SMA.

Kemudian kami berkeliling kota menggunakan andong milik Bejo. Debu yang ada dimana-mana memaksaku mengenakan masker untuk melindungiku agar tidak sesak nafas.

xxx

Magma berwarna merah terang membelah gelapnya malam. Mengalir dari puncak gunung merapi turun mengejar para penduduk yang ada di lokasi daerah merapi. Bunyi ledakkan yang amat keras dari gunung itu, menggema jelas di gendang telingaku, bak suara bom yang meledakkan suatu kota atau daerah. Betapa perihnya kumelihat suasana malam ini.
Kutermenung melihat makma merah yang terlihat jelas. Tetesan air mata turut menemani lamunanku saat ini. Kuhapus semua rasa malu yang kumiliki, tanpa henti ku teteskan air mataku.
“Ya Allah, semoga penderitaan yang saudara-saudaraku alami lekas berakhir. Amin.” kataku dibalik lamunan dan tangisku sambil memandang magma merah yang terlihat jelas laksana serpihan api yang menyala terang.
Tak ada yang bisa kuberikan untuk membantu para korban merapi. Hanya doa yang selalu keluar dengan lembut dari bibir tebalku. Semoga keadaan Yogyakarta dan dareah lainnya yang menjadi korban, kembali seperti semula. Dan semoga para korban diberikan ketabahan oleh Allah SWT. dalam menjalani semua cobaan yang diberikannya. Ketahuilah bahwa Allah takkan memberikan cobaan bagi umatnya melebihi kekuatan yang dimiliki umatnya tersebut. Amin.
Share this article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. INFORMATIKA SMK N 2 TARAKAN - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger